Jumat, 08 Mei 2015

tugas



Pembelahan Sel
PEMBELAHAN SEL
STANDAR KOMPETENSI :
Siswa mampu Memahami konsep dasar dan prinsip-prinsip  hereditas serta implikasinya pada salingtema
KOMPETENSI DASAR :
Siswa mampu menjelaskan keterkaitan antara proses pembelahan mitosis dan meiosis dengan pewarisan sifat.
Apa yang akan dipelajari ?
  1. Mitosis terjadi pada perbanyakan sel tubuh, dan menghasilkan sel anak dengan jumlah kromosom sama dengan sel induk (2n).
  2. Dalam meiosis terjadi 2 tahapan pembelahan. Meiosis 1 (pembelahan reduksi) dan meiosis 2  dengan hasil akhir 4 sel anak dengan jumlah kromosom n.
  3. Pembentukan gamet terjadi secara meiosis, berlangsung dalam alat perkembangbiakan jantan dan betina individu dewasa.
Pendahuluan
 Reproduksi sel membahas tentang macam pembelahan sel, mekanisme pembelahannya, serta contoh dari pembelahan sel. Esensi proses pembelahan sel adalah mengenai penggandaan kromosom serta mekanisme pewarisan kromosom dari ‘sel induk’ ke ‘sel anak’
Reproduksi sel bertujuan untuk menambah jumlah dan jenis sel, atau membentuk sel-sel lain dengan tujuan tertentu. Sel merupakan unit kehidupan terkecil yang reproduktif. Sel baru dihasilkan melalui proses membelah diri menjadi 2 sel baru/ sel anak. Pembelahan sel adalah peristiwa alami yang harus terjadi karena mempengaruhi kelangsungan hidup suatu makhluk hidup. Ada tiga jenis pembelahan sel, yaitu amitosis, mitosis, dan meiosis.
 https://biologiklaten.files.wordpress.com/2012/01/mind-map-pembelahan-sel1.png?w=351&h=195
Gambar 7.1. Peta Konsep Pembelahan Sel
1.  AMITOSIS
Pembelahan secara langsung biasa terjadi pada mahluk hidup bersel tunggal (uniseluler). merupakan reproduksi mahluk hidup itu sendiri. prmmbelahan amitosis tidak didahului pembentukkan benang gelondong maupun pembelahan inti. Amitosis merupakan cara reproduksi vegetatif pada organisme prokariotik dan protojoa, langsung menghasilkan dua sel anakan, sehingga sering disebut pembelahan, setiap sel anak mewarisi sifat-sifat induknya. pembelahan amitosis senantiasa menghasilkan keturunan yang memiliki sifat yang identik dengan induknya.
https://biologiklaten.files.wordpress.com/2012/01/amitosis.jpg?w=300&h=175Gambar 7.2 Pembelahan Amitosis pada Amuba
 2.     MITOSIS DAN SIKLUS SEL
Pembelahan mitosis merupakan pembelahan secara tidak langsung atau melalui tahap-tahap yang terjadi pada perbanyakkan sel tubuh. Sel yang membelah secara mitosis akan menghasilkan dua sel anakkan yang masing-masing memiliki sifat dan jumlah kromosom yang sama dengan induknya. Siklus sel adalah kejadian-kejadian yang berlangsung dengan urutan tertentu yang dimulai dari pembelahan sel hingga pembelahan sel dalam pembentukkan sel anakkan. Siklus ini meliputi dua fase, yaitu fase interfase dan fase mitotik. Pembelahan mitosis berlangsung secara bertahap melalui beberapa fase, yaitu :
TAHAP PEMBELAHAN MITOSIS
Interfase
Merupakan fase istirahat dari pembelahan sel. Namun tidak berarti sel tidak beraktifitas justru tahap ini merupakan tahap yang paling aktif dan dan penting untuk mempersiapkan pembelahan.
Fase ini membutuhkan waktu paling lama dibandingkan dengan fase fase pembelahan sel (fase mitotik). Terbagi atas tiga fase, yaitu:
a.  Fase G1 (growth 1/pertumbuhan 1)
Merupakan fase paling aktif berlangsung selama 9 jam. Pada fase ini sel mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Pada fase ini sel bertambah ukuran dan volumenya.
b.  Fase S (Sintesis)
Merupakan fase sintesis DNA atau duplikasi kromosom, dengan waktu 10 jam
c.  Fase G2 (Growth 2/Pertumbuhan 2)
Merupakan fase yang didalamnya terjadi proses sintesis protein. Pada fase ini sel siap untuk mengadakan pembelahan
https://biologiklaten.files.wordpress.com/2012/01/siklus-sel-sel-eucariotik-interfase-dan-mitosis.jpg?w=300&h=226Gambar 7.3.  Interfase
Sekali lagi bahwa fase Mitosis tidak diawali dengan Interfase tetapi Fase Profase , karena Interfase merupakan persiapan mitosis , merupakan fase istirahat sel tidak membelah.
sedangkan Mitosis itu Fase sel melakukan pembelahan / reproduksi
Mitosis terjadi pada sel-sel tubuh (somatic). Terdiri atas 4 tahapan yang saling berurutan : profase, metaphase, anaphase dan telofase
1.     Profase
  • Benang kromatin memendek dan menebal menjadi kromosom
  • Tiap kromosom mengadakan replikasi menghasilkan kromatid
  • Sentriol (pada sel hewan) mulai memisah dan mengarahkan benang-benang gelendong
  • Pada akhir profase ditandai dengan menghilangnya membrane inti
https://biologiklaten.files.wordpress.com/2012/01/editan-11.gif?w=300&h=241Gambar 7.4  Profase
2.     Metafase
  • kromosom berjajar di bidang equator/ bidang pembelahan
https://biologiklaten.files.wordpress.com/2012/01/metafase.gif?w=300&h=215
Gambar 7.5. Metafase
3.     Anafase
  • merupakan tahap pembelahan inti
  • sentromer membelah dan kromatid memisahkan diri bergerak ke kutub yang berlawanan, berperan sebagai kromosom tetapi bergeraknya masih dalam benang gelendong
https://biologiklaten.files.wordpress.com/2012/01/anafase_anaftemp.png?w=584Gambar 7.6. Anafase
4.     Telofase
–           kromosom sampai di kutub masing-masing dan menjadi kromatin kembali
–           spindle mulai lenyap dan nucleolus muncul kembali
–           membrane inti terbentuk kembali
–           sekat sel/ lekukan sel terbentuk sehingga sel terbagi dua bagian (sitokinesis)dengan jumlah kromosom sama dengan jumlah kromosom sel induk
https://biologiklaten.files.wordpress.com/2012/01/telofase_telotemp.png?w=584Gambar 7.7. Telofase
3.     MEIOSIS
Meiosis terjadi pada alat reproduksi/gametangium/ gonat pada saat pembentukan gamet (gametogenesis). Menghasilkan sel anak yang memiliki jumlah kromosom setengah dari jumlah kromosom sel induk (n) sehingga disebut sebagai pembelahan reduksi. Meiosis diperlukan agar hasil peleburan antara gamet jantan dan gamet betina tetap memiliki jumlah kromosom 2n. Meiosis terdiri dari 2 tahap, yaitu : Meiosis I dan Meiosis II. , masa istirahat antara keduanya disebut interfase.
Sel somatik manusia terdiri dari 46 kromosom (23 pasang kromosom), setengah berasal dari tiap orang tua. Masing-masing dari 22 autosom maternal memiliki kromosom paternal yang homolog. Pasangan kromosom ke 23 adalah kromosom seks yang menentukan jenis kelamin seseorang,
Sel ovum dan sperma hanya mempunyai setengah kromosom (haploid / n), apabila ovum dan sperma bersatu (fertilisasi) akan terbentuk zigot diploid (2n) yang akan tumbuh menjadi individu baru dengan gen hasil kombinasi dari ovum dan sperma.
a.     Meiosis I
1). Profase I, dibagi menjadi beberapa tahap :
  • Leptonema     : benang-benang kromatin menjadi kromosom
Gambar 7.8. Leptonema
  • Zigonema       : kromosom homolog berdekatan dan bergandengan.tiap pasang kromosom homolog disebut bivalen
.
Gambar 7.9. Zigonema
  • Pakinema      : tiap-tiap bagian kromosom homolog mengganda, tetapi masih dalam satu ikatan sentromer sehingga terbentuk tetrad.
  • Diplonema     : kromatiddari tiap-tiap belahan kromosom memendek  dan membesar. Kromatid homolog tampak saling menjauhi tetapi tetap saling terikat bersama oleh kiasmata. Terjadi pindah silang (crossing over).
  • Diakinesis      : kromatid masih melanjutkan gerakan untuk saling menjauhi dan kiasmata mulai bergerak menuju ujung- ujung kromosom. Sentrosom membentuk dua sentriol yang masing-masing membentuk benang gelendong pembelahan. Satu sentriol tetap sedang yang lain bergerak kea rah kutub yang berlawanan. Membran  inti dan nucleolus hilang.
2). Metafase
  • menyerupai tahap metaphase pada mitosis, pembeda dengan metaphase pada mitosis adalah sentromer setiap pasang homolog menempel pada gelendongnya, satu di atas dan satu di bawah bidang equator
Gambar 7.10. Metafase I
3). Anafase I
  • Setiap pasangan kromosom homolog berpisah bergerak kea rah kutub yang berlawanan
  • Sentromer belum membelah
Gambar 7.11. Anafase I
4). Telofase I
  • § Selubung inti terbentuk, nucleolus muncul kembali
  • § Kromatin muncul kembali
  • § Terjadi sitokinesis
  • § Sentriol berperan sebagai sentrosom kembali
Gambar 7.12. Telofase I
b.    Meiosis II
1). Profase II
Gambar 7.13. Profase II
a). Sentrosom membentuk dua sentriol yang letaknya berlawanan kutub dan  dihubungkan oleh spindle
b).  Membran inti dan nukleus lenyap
c).  Kromatin berubah menjadi kromosom yang dijerat oleh spindle

2). Metafase II
Gambar 7.14. Metafase II
a). Kromosom berada di equator
b). Kromatid berkelompok  dua-dua
c). Belum terjadi pembelahan sentomer
3). Anafase II
Gambar 7.15. Anafase II
a). Chromosomes melekat pada kinetokor spindel ke arah kutub yang berlawanan, sehingga sentromer terbelah
b). Masing-masing kromatid bergerak ke arah yang berlawanan
Telofase II
a). Kromatid berkumpul pada kutub pembelahan dan berubah kembali jadi kromatin
b). Membran inti dan nukleus terbentuk lagi
c). Akhir pembelahan meiosis II akan terbentuk 4 sel yang masing-masing mengandung setengah dari kromosom induknya.( n )
Gambar 7.16. Telofase II
Perbedaan Pembelahan Mitosis dengan Pembelahan Meiosis
No
Mitosis
Meiosis
1.
Lokasi pembelahan Sel-sel tubuh (somatis) dan sel gonad
Lokasi pembelahan Sel gonad/sel kelamin
 2
Jumlah pembelahan Satu kali
Jumlah pembelahan dua kali
1
  1. Jumlah sel anak hasil pembelahan Satu sel induk menghasilkan 2 sel anak
Jumlah sel anak hasil pembelahan Satu sel induk menghasilkan 4 sel anak
2
Jumlah kromosom anak Diploid (2n) Diploid (2n)
Jumlah kromosom anak Diploid (2n) Haploid (n)
3
Pindah silang Tidak terjadi
Pindah silang terjadi pada profase I
4
Komponen genetik sama dengan induk
Komponen genetik berbeda dengan induk
5
Tujuan Pertumbuhan dan regenerasi
Tujuan Reduksi kromosom yaitu pembentukan gamet


metodelogi penelitian



RESUME
METODELOGI PENELITIAN
“LATAR BELAKANG MASALAH”






OLEH :
NAMA                        : NITA ELLA DEMELIA
                                        NIM                                        : 1205576
        PRODI                       : PENDIDIKAN BIOLOGI RM




JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Latar belakang masalah adalah hal- hal yang mendasari atau mendorong keinginan seseorang untuk memilih, mengungkapkan, atau memecahkan masalah melalui penelitian. Dengan demikian, latar belakang masalah harus berisi uraian yang sifatnya argumentative atau bersifat memberi alas an kenapa peneliti tertarik meneliti masalah ini atau apa perlunya masalah yang dipilih itu diungkapkan atau dipecahkan.
Dalam menyusun latar belakang, diperlukan mengemukakan data, fakta, atau informasi yang mendukung permasalahan. Data, fakta, atau informasi pendukung masalah biasanya diperoleh dari studi pendahuluan, survey, wawancara, bacaan, media massa, atau pertemuan ilmiah. Data, fakta, atau informasi pendukung ini sangat berguna untuk memperkuat argumentasi kita bahwa masalah itu penting atau menarik dan bisa untuk diteliti, sehingga dapat meyakinkan penilai proposal. Disamping itu, penilitian sebelumnya yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti perlu pula dikemukakan dalam latar belakang masalah. Kadangkala, masalah yang dipilih terilhami oleh hasil penilitian orang lain . Misalnya, dari saran seorang peneliti untuk meneliti lebih lanjut sesuatu yang belum terungkap penilitinya. Kemungkinan lainnya dapat mengembangkan masalah setelah melihat sisi lain, metode lain, atau perlakukan lain dari apa yang telah dilakukan peneliti dengan cara memodifikasi penelitian sebelumnya.
Pada hakikatnya, latar belakang masalah itu berguna untuk meyakinkan orang, penilai, atau sponsor bahwa masalah itu layak, menarik, atau penting diteliti, sehingga penilai, pembimbing, atau sponsor dapat menerima proposal yang diajukan. Tidak mustahil suatu masalah sebenarnya sangat penting untuk diteliti, tetapi latar belakang yang ditulis tidak bisa meyakinkan pembaca, penilai atau pembimbing bahwa masalah itu menarik atau penting untuk diteliti atau dipecahkan, sehingga proposal yang diajukan ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedudukan latar belakang masalah itu cukup penting, oleh karena itu perlu disusun dengan baik. Untuk bisa menyusun latar belakang masalah yang baik tentu perlu diperlukan latihan yang cukup.
Beberapa hal yang dibahas dalam latar belakang skripsi yaitu :
1.      Fenomena/Kabar Terbaru
Mengemukakan berbagai keadaan di masyarakat atau di kalangan tertentu yang berhubungan dengan masalah yang akan di teliti. Misalnya berbagai kebijakan pemerintah, masalah pendidikan, kenakalan remaja, prestasi siswa dll

2.      Kondisi Ideal Didukung Teori-teori Terbaru
Mengemukakan kondisi yang diharapkan oleh siswa, masyarakat atau pemerintah didukung oleh pemaparan berbagai kajian teori yang merujuk kondisi yang diinginkan atau kondisi yang seharusnya.

3.      Kondisi Empiris
Mengemukakan kondisi yang terjadi terhadap obyek yang akan di teliti disertai berbagai bukti yang mendukung terhadap pengungkapan kondisi tersebut.

4.Penemuan Masalah
Berdasarkan pengungkapan kondisi ideal dan kondisi empiris (No. 2 dan No. 3) di atas maka akan muncul ketimpangan antara keduanya yang kemudian akan di analisis dan di teliti.

4.      Alasan Penelitian
Pada bagian akhir penulisan Latar Belakang kemukakan pentingnya penulisan dan pentingnya pemilihan permasalahan yang di teliti serta  


B.     Batasan Masalah
Ruang lingkup masalah artinya segala sesuatu yang terkait dengan masalah yang juga mempunyai peluang untuk diteliti. Untuk menentukan ruang lingkup masalah, terlebih dahulu tentukan apa masalah ( variable) penelitiannya. Misalnya dari judul penelitian di atas, “ Pengaruh Tugas Rumah terhadap Hasil Belajar Siswa SMU Negeri 2 Padang dalam Mata Pelajaran Biologi. Berarti ada dua masalah ( variable) dalam penelitian ini, yaitu tugas rumah dan hasil belajar.
Setelah dikemukakan beberapa identifikasi masalahnya, maka langkah selanjutnya dilakukan penilaian masalah sesuai dengan focus masalah yang gambarkan pada latar belakang masalah. Contoh lain batasan masalah dari sebuah judul penelitian dalam bidang biologi adalah seperti berikut ini. Pada penelitian yang berjudul “ Pengaruh Berat Benih terhadap Pertumbuhan Jagung’” yang menjadi masalah adalah berat benih ( variable bebas) dan pertumbuhan ( variable terikat). Dalam penelitian ilmu biologi, batasan masalah ini sering juga dimasukkan ke dalam parameter yang diukur.

C.     Rumusan Masalah
Langkah berikutnya setelah masalah dibatasi adalah merumuskan masalah. Bagaimana cara merumuskan masalah ? Menurut Suryabrata (1989:71) tidak ada aturan yang baku mengenai cara merumuskan masalah. Namun, disarankan hal- hal sebagai berikut :
(1)   Masalah hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
(2)   Rumusan masalah harus padat dan jelas.
(3)   Rumusan masalah harus member arahan tentang jenis data yang diperlukan dan bagaiman mendapatkannya untuk menjawab pertanyaan atau rumusan masalah yang diajukan.
Dalam satu laporan penelitian atau skripsi mahasiswa sering ditemui sejumlah rumusan masalah, tetapi tidak semuanya dijawab dalam penelitian. Sebenarnya hal semacam itu mubazir atau tidak perlu. Sebaiknya kita hanya merumusakan masalah yang akan diteliti.
Perumusan masalah adalah  usaha untuk menyatakan secara tertulis pertanyaan-pertanyaan yang ingin dicari jawabannya melalui penelitian. Apakah yang dimaksud dengan masalah? Dalam arti luas, masalah sebenarnya adalah semua bentuk pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Walaupun masalah merupakan titik tolak untuk melakukan penelitian, tidak semua masalah dapat dijadikan objek untuk diteliti dan hal ini dapat diketahui dari karakteristik masalah itu sendiri.
Pembentukan Rumusan Masalah
Penentuan topik adalah tahap awal dalam proses penelitian atau penyusunan karya ilmiah. Topik yang masih bersifat awal tersebut kemudian difokuskan dengan cara membuatnya lebih sempit cakupannya atau lebih luas cakupannya. Ketika cakupannya sudah sesuai, kemudian permasalahan dapat ditentukan. Permasalahan dapat berupa pertanyaan yang kemudian analisis atau pernyataan argumentasi yang merupakan penjabaran bukti berdasarkan analisis.
Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan untuk menemukan permasalahan dari topik karya ilmiah yang sudah siap.
1. Tentukan tipe karya ilmiah
2. Siapkan sumber informasi (resources)
3. Menyempitkan atau memperluas topik
4. Membangun permasalahan dari topik
5. Uji “SO WHAT”
D.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian berkaitan erat dengan judul, rumusan masalah, hipotesis atau pertanyaan penelitian.  Pada hakikatnya, tujuan penelitian adalah untuk menguji hipotesis mencari jawaban yang dipertanyakan dalam rumusan masalah atau dalam pertanyaan peneliti. Ada pula yang mencampurkan tujuan penulisan skripsi dengan tujuan penelitian. Misalnya ada yang membuat tujuan penelitian untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar sarjana. 
Tujuan penelitian ini adalah atau penelitian ini bertujuan untuk mengetahu :
(1)   Pengaruh Tugas Rumah Terhadap Hasil Belajar Siswa SMU Negeri 2 Padang Dalam Mata Pelajaran Biologi.
(2)   Hubungan NEM dengan Indeks Prestasi Belajar Mahasiswa di Perguruan Tinggi.
(3)   Hubungan Pendidikan Orang Tua dengan Tingkat Kesulitan Belajar Anak.

Tujuan penelitian dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a.       Tujuan Umum, mengandung uraian garis besar sasaran akhir secara keseluruan yang akan dicapai
b.      Tujuan khusus, mengandung uraian secara rinci untuk mencapai tujuan umum.
Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oeh mahasiswa yang sedang membuat Skripsi atau tesisi adalah merumuskan tujuan sebagai berikut : 
a.       Tujuan penelitian adalah untuk memenuhi tugas dalam mencapai gelar sarjana mudah/sarjana
b.      Tujuan penelitian adalah untuk mencari data
      Tujuan penelitian harus lebih luas dari pada sekedar hal yang bermaslah. Jawab terhadap rumusan masalah dan tujuan penelitian terletak pada kesimpulan penelitian.  























DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: CV. Alfabeta
Abdul Muthalib, Metode Penelitian Pendidikan Islam, Banjarmasin: Antasari Press
Kunandar, S.Pd.,M.Si, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Mahsun, Metode Penelitian Bahasa, Jakarta: PT. Raja Grafindo Pesada